Mengelola Kemarahan dan Menggunakannya untuk Hal Baik
Judul buku: Jangan Genggam Amarahmu!
Sub judul: Mengelola kemarahan dan frustrasi secara sehat
Penulis: Pam dan John Vredevelt
Ukuran: 13 x 16,5 cm
Tebal: 151 halaman
Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta
Apa yang Anda lakukan ketika Anda marah? Meluapkannya atau memendamnya?
Budaya masyarakat kita sepertinya masih menabukan kemarahan. Jika ada orang yang marah, biasanya akan ditegur, “Sudah, jangan marah” atau “Jangan marah, nanti cepat tua.” Karena itu, menyembunyikan dan menahan kemarahan menjadi sesuatu yang biasa dilakukan. Tetapi benarkah kemarahan adalah suatu hal yang tabu?
Yesus, “Guru” kita pernah marah saat para pedagang dan lintah darat menggelar usahanya di halaman Bait Allah (Mrk 11:15-17). Dia juga marah kepada para murid-Nya ketika mereka menghalangi anak-anak yang datang kepada-Nya. Jadi sebenarnya, marah adalah sesuatu hal yang wajar. Kemarahan adalah bagian dari rancangan orisinal Allah. Di Alkitab terdapat 450 keterangan tentang kemarahan Allah, dan karena kita diciptakan serupa dengan-Nya, maka kita pun bisa marah. Dalam menangani kemarahan, hal perlu kita ingat adalah kemarahan perlu disalurkan dengan benar. Itu merupakan anugerah Allah. Kemarahan bisa menjadi petunjuk bahwa kita memiliki pemahaman yang benar tentang keadilan (Bab 1, hal. 26).
Buku ini membantu kita mengarahkan kemarahan dengan benar; bukan menahannya atau menyembunyikannya sehingga akhirnya justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Pertama-tama penulis buku ini menyadarkan bahwa kemarahan adalah hal yang wajar. Pada bab satu, penulis melihat sisi positif dari kemarahan. Selanjutnya, pada bab dua pembaca diajak untuk mengenali bagaimana mereka mengungkapkan kemarahan. Apakah sudah tepat atau justru selama ini merugikan orang lain dan diri sendiri? Pada bab-bab selanjutnya, penulis mengajak pembaca mengelola amarah dengan lebih sehat. Cara yang pertama adalah dengan melihat kemarahan secara sistematis, yaitu dengan mencari tahu apa pemicu kemarahan kita, keyakinan dan hal-hal yang kita katakan kepada diri sendiri tentang peristiwa-peristiwa pemicu kemarahan, dan akibat yang ditimbulkan oleh keyakinan kita dan apa yang kita katakan pada diri sendiri (hal. 43). Selanjutnya pada bab empat, penulis memberikan strategi saat kita sedang marah agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Cara itu adalah berdiam diri dan menenangkan diri, berpikir dan bertanya kepada diri sendiri apa yang mendorong kita menjadi frustrasi dan marah, serta berdoa dan mengutarakan kepada Allah seluruh luka batin dan kemarahan kita.
Kemarahan kerap membuat kita tergoda untuk melakukan balas dendam. Pengampunan adalah obat termanjur untuk mengatasinya. Tetapi bagaimana mengampuni? Di bab akhir buku ini, penulis memaparkan “kerja sama” yang bisa kita lakukan dengan Allah dalam hal mengampuni. Pada masing-masing tips, dituliskan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang akan Allah lakukan setelah kita mengerjakan bagian kita. Selanjutnya, pembaca bisa menggunakan buku ini sebagai bahan diskusi kelompok karena di bagian paling akhir ada pertanyaan-pertanyaan yang disediakan.
Buku ini ditulis oleh John dan Pam Vredevelt (suami istri) yang merupakan konselor profesional. John Vredevelt adalah pendeta yunior di Gereja East Hill di Gresham, Oregon. Ia menjadi staf gereja tersebut sejak tahun 1976 dan sangat berpengalaman sebagai konselor dan pendidik yang khusus di bidang manajemen kemarahan. Di buku ini, selain disuguhi strategi efektif dalam mengelola kemarahan, Anda juga akan membaca kisah dan pergumulan pribadi penulis dalam mengendalikan kemarahan. Selain itu, penulis juga memasukkan beberapa kisah orang yang datang kepada mereka karena memiliki masalah dalam kemarahan. Jadi, kita bisa melihat secara langsung berbagai bentuk kemarahan dan bagaimana mengatasinya secara sehat.
Buku ini tidak saja membantu bagi orang yang memiliki masalah dalam menghadapi kemarahan, tetapi juga bagi kita yang mungkin tak pernah merasa bermasalah dalam amarah. Bagaimanapun kita semua bisa marah dan kemarahan kita sangat berpotensi untuk menyakiti orang lain. Dengan buku ini kita bisa mengenal diri sendiri—terutama dalam bagaimana kita mengelola emosi marah dan frutrasi—serta menjadikan diri kita menjadi pribadi lebih menyenangkan dan menggunakan kemarahan itu untuk hal yang baik. (C. Krismariana W.)
No comments:
Post a Comment